Nyai Ageng Tumengkang Sari, Roro Jonggrange Wong ngGersik

Nyai Ageng Tumengkang Sari. Menelisik kearifan lokal yang satu ini, tentunya Anda akan teringat akan cerita Roro Jonggrang, anak seorang raksasa sakti Prabu Boko, yang memerintah di Prambanan, yang meminta dibuatkan seribu candi tatkala ia ingin menolak secara halus atas pinangan Bandung Bondowoso, putra seorang Raja dari Kerajaan Pengging.

Berbatasan dengan Kerajaan Boko, ada sebuah kerajaan bernama Kerajaan Pengging. Pada suatu hari, Raja Pengging ingin memperluas wilayah kerajaannya, maka ia pun mengutus putranya, Bandung Bondowoso untuk memimpin pasukan menyerang Kerajaan Prambanan. Bandung Bondowoso akhirnya berhasil mengalahkan pasukan Boko, bahkan membunuh Raja Boko yang juga terkenal kesaktiannya itu.

Untuk menikmati kemenangannya, Bandung Bondowoso pun tinggal di istana Prambanan. Karena ia sudah tinggal di istana tersebut, Bandung Bondowoso jatuh cinta kepada Roro Jonggrang, yang tidak lain adalah putri seorang raja yang telah dibunuhnya. Akan tetapi, Bandung Bondowoso tidak peduli akan hal itu, ia ingin menjadikan Roro Jonggrang sebagai permaisurinya.

Nyai Ageng Tumengkang Sari - Roro Jonggrange Gresik
Nyai Ageng Tumengkang Sari – Roro Jonggrange Gresik
Ilustrator: Rachmad Basoeki

Mendengar pinangan dari Bandung Bondowoso, Roro Jonggrang dibuat kalang-kabut, bingung harus menjawab apa. Di sisi lain, lelaki yang meminangnya tersebut sudah membunuh ayah kandungnya. Jika ia menolak pinangan tersebut, ia tahu pasti bahwa nyawanya adalah taruhannya, yang tidak jauh berbeda dengan apa yang dialami oleh ayahandanya.

Roro Jonggrang akhirnya memutar otaknya, mencari alasan bagaimana caranya pinangan tersebut tetap ia terima, namun dengan persyaratan yang cukup berat dan dirasa tidak akan disanggupi oleh Bandung Bondowoso.

Yèn sampèan pingin ndadèkno éson permaisuriné sampèansampèan kudhu isyok menuhi persyaratané éson iki… “, begitulah kira-kira yang dikatakan oleh Roro Jonggrang kepada Bandung Bondowoso.

Sak karêpmu, Jonggrang… Opo sing mbuk jalukpasti éson turuti…“, jawab Bandung Bondowoso.

Mendengar keangkuhan yang diperlihatkan oleh Bandung Bondowoso, akhirnya Roro Jonggrang menyebutkan persyaratan yang harus dipenuhi oleh Bandung Bondowoso, yaitu membuatkan seribu canda untuknya dalam satu malam.

Rasakno koên Bandung Bondowosomosok isyok awakmu menuhi opo éson jaluk…”, kata Roro Jonggrang dalam hati.

Tanpa disangka, Bandung Bondowoso me- ngiyakan apa yang diminta oleh Roro Jonggrang. Dan tanpa membuang waktu lagi, Bandung Bondowoso bergegas untuk membangun seribu candi yang diminta oleh Roro Jonggrang, tentu saja dengan bantuan para jin, yang sudah menjadi anak buah dari Bandung Bondowoso.

Melihat kesigapan yang dilakukan oleh Bandung Bondowoso, Roro Jonggrang mulai panik. Ia pun mencari akal lagi, bagaimana caranya agar Bandung Bondowoso tidak bisa memenuhi apa yang telah dimintanya, karena yang terlihat candi- candi itu sudah berdiri megah dan hanya kurang beberapa saja.

Tanpa membuang waktu lagi, akhirnya Roro Jonggrang memanggil dayang-dayang-nya untuk segera bangun sebelum pagi tiba. Masih di tengah malam, para dayang-dayang itu pun membakar jerami dan menumbuk lêsung yang menandakan bahwa pagi telah tiba. Dan tak lama kemudian, ayam jantan pun berkokok nyaring.

Mendengar kokokan ayam jantan tersebut, Bandung Bondowoso merasa kaget, dikarenakan langit masih gelap, yang menandakan bahwa saat itu masih malam dan pagi belum menjelang. Amarah Bandung Bondowoso pun tak terelakkan lagi. Bagaimana tidak, ia merasa dicurangi oleh Roro Jonggrang, padahal candi yang dibuatnya hanya kurang satu saja.

Melihat kesengajaan yang telah dilakukan oleh Roro Jonggrang, Bandung Bondowoso pun mengutuk Roro Jonggrang menjadi candi, sebagai pelengkap candi yang ke seribu. Dan sampai saat ini, patung Roro Jonggrang bisa kita lihat di kompleks Candi Prambanan.

Setelah mengetahui cerita tentang Roro Jonggrang dan Bandung Bondowoso, ada cerita yang hampir mirip terjadi di Gresik, khususnya di Dusun Sumur Songo yang kini menjadi Desa Sidokumpul. Dan cerita ini semakin dikuatkan oleh penuturan dari pengurus Makam Sumur Songo, Mbah Amin yang sudah berusia 65 tahun yang telah lama mengabdikan diri untuk menjaga makam ini.

Bedanya hanya tipis sekali, yaitu bentuk permintaan yang diberikan oleh si perempuan kepada sang peminangnya. Kalau Roro Jonggrang minta dibuatkan seribu candi dalam waktu semalam oleh Bandung Bondowoso, cerita dari Gresik ini yang tidak lain adalah kisah dari Nyai Ageng Tumengkang Sari yang minta dibuatkan sepuluh sumur oleh seorang Pangeran dari Kerajaan Majapahit.

Syahdan, Nyai Ageng Tumengkang Sari adalah seorang putri yang sangat ayu dan rupawan, yang merupakan putri dari Sunan Wruju, yang tidak lain adalah putra dari Sunan Giri. Tidak jauh berbeda dengan cerita Roro Jonggrang, Nyai Ageng Tumengkang Sari ingin dipinang oleh seorang pangeran tampan dari Kerajaan Majapahit yang juga terkenal sakti mandraguna yang sedang berkunjung ke Kerajaan Giri suatu waktu.

Wajah tampan, kesaktian dimiliki, namun sayang… Pangeran tersebut berbeda agama dengan Nyai Ageng Tumengkang Sari. Hatinya bergejolak, bagaimana bisa ia menerima lamaran dari seseorang yang berbeda keyakinan dengannya??? Ia adalah cucu dari seorang Sunan yang menyebarkan ajaran Agama Islam di Pulau Jawa ini, sedangkan pangeran tersebut berasal dari Kerajaan Majapahit yang dikenal menganut Agama Hindu.

Ingin rasanya Nyai Ageng Tumengkang Sari segera menolaknya, namun ia berpikir panjang. Apabila ia langsung menolak lamaran pangeran tersebut, maka pertumpahan darah pun terjadi, karena bisa dipastikan pangeran tersebut merasa malu dan tidak terima telah ditolak oleh Nyai Ageng Tumengkang Sari. Karena masih belum menemukan alasan yang tepat, akhirnya Nyai

Ageng Tumengkang Sari memutuskan untuk turun gunung, meninggalkan Kerajaan Giri dan bersembunyi ke salah satu dusun yang sekarang berada di daerah Jalan Panglima Sudirman.

Dalam persembunyiannya tersebut, ia ditemani oleh pengasuhnya yang bernama Mbah Susilowati dan Mbah Singo sebagai pengawal pribadinya. Dengan mengandalkan keahliannya, ia pun banyak menolong warga setempat yang ingin melahirkan, coro Jowoné ngunu dadi dukun bayi…

Dalam persembunyiannya tersebut, selain di- temani oleh pengasuh dan pengawal pribadinya, ia juga diantu oleh Mbah Mbrojol, yang membantu menyiapkan racikan godhong-godhongan untuk orang yang telah melahirkan. Resep yang sudah diberikan oleh Nyai Ageng Tumengkang Sari, kemudian ditumbuk di sebuah pipisan sing mirip alu karo lumpangsing biasané digawé ngalusno jamu.

Kembali ke cerita pangeran dari Kerajaan Majapahit… Mendengar Nyai Ageng Tumengkang Sari

Ditulis oleh: Lailiyatun Nafiah, Buku Sang Gresik Bercerita, Kisah-kisah Kearifan Lokal Gresik Tempo Dulu

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You May Also Like