Bandungan, Bancaan di Tengah Laut

Bandungan, Prosesi sebelum Melarung Sesaji
Prosesi sebelum Melarung Sesaji

Bandungan. Tanah kelahiran saya merupakan sebuah desa kecil di tepi laut. Namanya adalah Desa Lumpur. Mata pencaharian masyarakat setempat hampir semuanya nelayan. Saya beruntung mengalami dan melihat sendiri berbagai kearifan lokal masyarakat nelayan yang unik dan menarik. Dan satu tradisi yang paling menarik adalah ketika mereka menggelar acara sêlamêtan di tengah laut, namanya Bandungan.

Kebetulan semenjak saya kecil, di kampung saya mempunyai tetangga yang memiliki keahlian yang bermacam-macam, salah satunya bernama Bapak H. Rofi’uddin. Teman Bapak saya ini ahli dalam bidang ilmu falakhiyah atau ilmu perbintangan, yang digunakan untuk menentukan waktu, khususnya waktu sholat lima waktu (sholat DhuhurAsharMaghribIsya’, dan sholat Shubuh) dengan sebuat alat yang sangat sederhana.

Yang masih saya ingat, setiap hendak mengukur atau menentukan waktu selalu tolah-tolèh atau melihat atau memandang anak-anak yang sedang bermain di kampung. Suatu ketika, dia melihat saya, kemudian memanggil : “TahFatah mêrénéo sêdilutta wuruki bèkné awakmu ngerti ilmu falakhiyah”. Hal itu sering dia lakukan dalam banyak kesempatan.

Disamping itu, ada lagi tetangga saya seorang yang ahli dibidang pedalangan dan pewayangan, namanya Bapak Djoko Rachman. Disamping seorang dalang yang terkenal, dia juga mempunyai seperangkat gamelan yang bagus, yang terbuat dari kuningan asli. Dia juga sangat mahir dalam membuat wayang sesuai dengan berbagai karakter.

Setiap akan membuat wayang, kalau kebetulan ada saya, dia selalu memanggil saya untuk melihat bagaimana caranya memulai membuat wayang.

Bahkan kalau dia mengadakan acara sêlamêtan dengan layar bèbèr dan seperangkat penabuh gamelan komplit yang diadakan di depan rumahnya, saya selalu mengikuti dan menyaksikan caranya mendemonstrasikan dalam memainkan wayang tersebut sebagaimana seorang dalang. Hal ini bahkan dilakukan semalam suntuk, sampai-sampai saya ketiduran dekat para penabuh dan gamelannya.

Lokasi Desa Lumpur berada di wilayah Kecamatan Gresik Kota, yang berbatasan dengan beberapa desa. Di sebelah timur, berbatasan dengan Desa Kroman dan Sukodono. Di sebelah selatan, desa ini berbatasan dengan Desa Karangpoh. Sebelah barat, berbatasan dengan Desa Tlogopojok, dan sebelah utara, langsung berhadapan dengan laut.

Dulu di sebelah barat desa, selain bersebelahan dengan Desa Tlogopojok, juga ada desa yang bernama Pojok Pesisir. Karena perubahan situasi dan kondisi wilayah desa tersebut, akhirnya desa itu pindah atau bêdhol desa dan menempati wilayah baru yang berada di Kecamatan Kebomas dengan nama Desa Gulomantung. Itulah sekilas cerita tentang desa atau Kelurahan Lumpur.

Penduduk atau warga Lumpur, mata penca- hariannya mayoritas dan kebanyakan sebagai ne- layan di laut untuk memenuhi kebutuhan sehari- hari. Sebagai nelayan, mereka juga memiliki istilah nama-nama tersendiri dalam mencari ikan di laut.

Kalau mencari ikan sumbal di tengah laut lepas, mereka katakan Lungo Nyumba. Biasanya alat jaring yang dipakai itu berukuran besar atau disebut jaring gede. Kalau dapat ikan itu kebanyakan juga ikannya besar seperti ikan sumbal atau ikan cabek.

Jika mereka mencari ikan udang-udang yang kecil, mereka katakan Lungo Nyodo. Kalau menggunakan alat jaring yang berukuran sangat kecil, maka otomatis olèhé iwak yo jelas iwak cilik-cilik dan mereka menyebutnya dengan nama iwak grago atau semacam ikan teri.

Sedangkan jika mereka mencari ikan yang ber- macam-macam dan di pantai, mereka biasa menga- takan Lungo Nyager. Alat yang dipakai bernama cager, yang terbuat dari anyaman dari bambu yang dipotong kecil-kecil koyok kêréhé omah wong pesisir.Karena pengaruh jaman yang modern, sebagian nelayan menggunakan alat cager yang terbuat benang nilon, yang dibuat dengan menggunakan mesin.

Waktu keberangkatan nelayan Lumpur untuk mencari ikan juga tidak sama. Ada nelayan yang berangkat melaut itu berangkat pagi, pulang sore hari. Ada pula yang berangkat sore, pulang larut malam. Ada juga ada nelayan yang berangkat malam, pulangnya pagi hari. Bahkan ada nelayan berangkat dan pulangnya lebih dari satu hari.

Pekerjaan mereka sebagai nelayan tersebut me- rupakan penerus dari para nelayan pendahulunya. Apalagi para pendahulunya itu salah satu tokoh ulama sebagai mbabat alas pesisir Kota Gresik, yakni Mbah Kyai Sindujoyo yang merupakan santri dari Kanjeng Sunan Prapen, cucu Kanjeng Sunan Giri atau Sultan Ainul Yaqin, yang disebut juga Joko Samudro.

Bandungan

Bandungan
Bandungan
Ilustrator: Rachmad Basoeki

Untuk mengungkapkan rasa syukur atas nikmat yang diberikan oleh Allah SWT, para nelayan tersebut tiap tahun mengadakan acara tasyakuran yang dinamakan Bandungan. Acara ini biasanya dilaksanakan setelah puncak peringatan khaul Mbah Sindujoyo yang dipusatkan di Balé Gede atau Balai Kambang, yang biasanya jatuh pada tiap bulan Mei.

Perlu diketahui bahwa Desa Lumpur itu memiliki 5 Balé (Balai), yang terdiri Balé Gede atau Balai Kambang, yaitu balé yang mempunyai nilai sejarah dan sebagai salah satu ikon warga Lumpur dan sekitarnya. Kemudian Balé CilikBalé PurboBalé Alas, dan Balé Pesusu’an.

Proses acara Bandungan tersebut dilakukan secara bersama-sama, baik orang tua, pemuda, remaja bahkan anak-anak, laki-laki maupun perempuan, dengan pakaian yang bermacam- macam khususnya busana muslim. Acara diawali para warga yang membawa beberapa tumpêng, bubur beraneka warna, juga makanan berupa tumpêng kecil beserta ikannya yang dimasukkan ke dalam wadah, berupa perahu terbuat dari kertas.

Kemudian para warga berkumpul di balé yang bia- sanya digunakan tempat istirahat para nelayan. Begitu arak-arakan sudah siap, maka salah seorang tokoh nelayan memberikan komando kepada seluruh warga yang ikut dalam arak-arakan tersebut dengan keras.

“ Ayo dulur-dulurwis siap ta???“
Wis siapCak…”
Allahummah… Shollialaa… Muhammad…” “Allahummah Shollialai…

Kemudian dilanjutkan berjalan bersama-sama dengan arak-arakan dari balé menuju tepi laut atau geladak, lalu naik ke perahu-perahu yang telah disediakan dan diiringi dengan musik HadrahBanjari, atau Terbangan dengan membaca shalawat Nabi sampai di tengah laut.

Perahu kemudian berhenti di tengah laut begitu posisinya tepat berada pada garis lurus antara perahu dengan Balé Gede atau Balé Kambang langsung ke posisi Makam Kanjeng Sunan Giri dan Sunan Prapen.

Di tengah laut itulah, dilangsungkan acara yang dipimpin seorang Ustadz dengan membaca Surat Al-Fatihah, Surat Yasin, dan Tahlil, lalu ditutup dengan membaca doa dengan harapan semoga Allah SWT senantiasa memberikan keselamatan dan melimpahkan rezeki-Nya kepada para nelayan, khususnya nelayan Lumpur. Kemudian dilanjutkan dengan acara makan-makan bersama dengan riang dan senang di tengah laut. Seumpama acara ini dibuat film ngono mesti apiké yo… Unik.

Dengan selesainya acara tersebut, maka warga secara bersama-sama kembali ke geladak lalu pulang ke rumah masing-masing. Biasanya hari itu juga malamnya dilanjutkan dengan acara peringatan khaul Kyai Sindujoyo, sebagai sêsêpuh sekaligus yang mbabat alas wilayah Karang Pasung di pesisir Gresik, yang meliputi wilayah Kroman, Lumpur, Telogopojok, Sukodono, Roomo, dan sekitarnya.

Wis yo… Lèrèn disék ceritoné, mudah-mudahan ada manfaatnya…

Ditulis oleh: Fatah Yasin, Buku Sang Gresik Bercerita – Kisah-Kisah Kearifan Lokal Gresik Tempo Dulu

Ilustrasi oleh: Rachmad Basoeki

Photo oleh: Yudhi Dwianggoro

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You May Also Like