Kota Tua Malang di Malam hari

Jika di Jakarta punya kawasan classic yang sering disebut ‘Old Batavia’ atau ‘Kota Tua Jakarta’, maka kota malang juga tidak mau ketinggalan, di kota malang juga sebenarnya terdapat kawasan yang dilingkungannya terdapat bangunan-bangunan kuno peninggalan masa-masa penjajahan Belanda, kita sebut saja Kota Tua Malang ^^.
Bangunan-bangunan kuno di Malang tersebar dibeberapa tempat, seperti di kawasan Ijen, disini terdapat banyak sekali bangunan2 kuno, banyak juga kegiatan yang dilakukan disini untuk kepentingan promosi wisata kota Malang, seperti Festival Malang Tempoe Doeloe (seperti dibahas pada post terdahulu) dan sebagainya ^^.
Namun yang disayangkan, seperti pada tempat2 pariwisata lain di Indonesia, kurangnya ekspose, perawatan dan pengembangan dari pihak yang berwenang yang dalam hal ini Departemen Pariwisata Kota Malang membuat tempat2 kuna nan bersejarah ini kurang diminati oleh wisatawan baik dalam maupun luar negeri. Padahal daerah ini mempunyai potensi yang luar biasa.
Selain di kawasan Ijen, ada lagi bangunan kuno yaitu gereja kuno di depan Toko ‘Oen (seperti foto diatas), woowww… bangunnya begitu artistik khas bangunan dari Eropa jaman dulu… sekali lagi jika ini bisa dimanfaatkan dengan baik akan bisa menjadi pariwisata yg sangat fantastis.
Dengan mulai banyaknya bangunan2 modern dan mall2 yang berdiri megah di kota malang, katakan saja seperti Malang Town Square (Matos), Malang Olympic Garden (MOG) dan sekarang ada baru lagi tepat disamping Matos, MX, keberadaan bangunan2 kuno bersejarah mulai redup sinarnya… yah… semoga mendapatkan penanganan lebih lanjut

Berkabut

Masih disekitaran kota Batu, Malang dan masih juga dalam satu session dengan foto pada posting sebelumnya ^^ waktu itu tiba2 didaerah sekitar pegunungan dipenuhi dengan kabut, woww… subhanallah… salah satu foto yang sempat terabadikan dapat dilihat diatas ^__^
Pada tulisan diatas, sempat saya sebut tentang kabut, lalu apakah kabut itu? dan bagaimana asal usul kabut?
Kabut atau dalam bahasa inggris disebut Fog adalah kumpulan tetes-tetes air yang sangat kecil yang melayang-layang di udara. Kabut mirip dengan awan, perbedaannya, awan tidak menyentuh permukaan bumi, sedangkan kabut menyentuh permukaan bumi. Biasanya kabut bisa dilihat di daerah yang dingin atau daerah yang tinggi. Kira-kira bagaimana ya kabut bisa terbentuk? Jika ingin tahu jawabannya silahkan lanjutkan membaca artikel ini selengkapnya.
Pada umumnya, kabut terbentuk ketika udara yang jenuh akan uap air didinginkan di bawah titik bekunya. Jika udara berada di atas daerah perindustrian, udara itu mungkin juga mengandung asap yang bercampur kabut membentuk kabut berasap, campuran yang mencekik dan pedas yang menyebabkan orang terbatuk. Di kota-kota besar, asap pembuangan mobil dan polutan lainnya mengandung hidrokarbon dan oksida-oksida nitrogen yang dirubah menjadi kabut berasap fotokimia oleh sinar matahari. Ozon dapat terbentuk di dalam kabut berasap ini menambah racun lainnya di dalam udara. Kabut berasap ini mengiritasikan mata dan merusak paru-paru. Seperti hujan asam, kabut berasap dapat dicegah dengan mengehentikan pencemaran atmosfer.

Kabut juga dapat terbentuk dari uap air yang berasal dari tanah yang lembab, tanaman-tanaman, sungai, danau, dan lautan. Uap air ini berkembang dan menjadi dingin ketika naik ke udara. Udara dapat menahan uap air hanya dalam jumlah tertentu pada suhu tertentu. Udara pada suhu 30º C dapat mengandung uap air sebangyak 30 gr uap air per m3, maka udara itu mengandung jumlah maksimum uap air yang dapat ditahannya. Volume yang sama pada suhu 20º C udara hanya dapat menahan 17 gr uap air. Sebanyak itulah yang dapat ditahannya pada suhu tersebut. Nah, udara yang mengandung uap air sebanyak yang dapat dikandungnya disebut udara jenuh.
Ketika suhu udara turun dan jumlah uap air melewati jumlah maksimum uap air yang dapat ditahan udara, maka sebagian uap air tersebut mulai berubah menjadi embun. Kabut akan hilang ketika suhu udara meningkat dan kemampuan udara menahan uap air bertambah. Menurut istilah yang diakui secara internasional, kabut adalah embun yang mengganggu penglihatan hingga kurang dari 1 Km.
Saat ini ada 4 macam jenis kabut yang diketahui, yaitu :
1. Kabut Advection
2. Kabut Frontal
3. Kabut Radisi
4. Kabut Gunung
Kabut Advection
Kabut advection adalah kabut yang terbentuk dari aliran udara yang melalui suatu permukaan yang memiliki suhu yang berbeda. Salah satu contoh kabut ini adalah kabut Laut yang terjadi ketika udara yang basah dan hangat mengalir di atas suatu permukaan yang dingin. Kabut laut sering muncul di sepanjang pesisir pantai dan di tepi-tepi danau.
Salah satu jenis yang lain dari Kabut Advection disebut Kabut Uap. Kabut ini terbentuk dari aliran udara dingin yang melalui air hangat. Uap air dari hasil penguapan permukaan air secara terus menerus, bertemu dengan udara dingin. Ketika udara mencapai titik jenuh, maka kelebihan uap air secara cepat mengembun menjadi kabut yang berasal dari penguapan permukaan air. Kabut Uap sering muncul pada saat udara dingin bertiup di atas danau yang luas dan bertiup diatas danau yang hangat.
Kabut Frontal
Kabut frontal terbentuk melalui suatu pertemuan antara dua masa udara yang berbeda temperaturnya. Kabut ini terbentuk ketika hujan turun dari masa udara yang hangat ke dalam masa udara yang dingin tempat uap air menguap. Dengan demikian akan menyebabkan uap air pada udara dingin melampau titik jenuh.
Kabut Radiasi
Kabut radiasi terbentuk pada malam yang tenang dan bersih, ketika tanah memancarkan kembali panas ke dalam udara. Satu lapis kabut terbentuk di seluruh permukaan tanah, dan secara bertahap bertambah menjadi tebal. Kabut Radiasi sering muncul di lembah-lembah yang dalam.
Kabut Gunung
Kabut gunung terbentuk ketika uap air bergerak menuju ke atas melewati lereng-lereng gunung. Udara dingin bergerak ke atas lereng sampai tidak sanggup menahan uap air. Titik-titik kabut kemudian terbentuk di sepanjang lereng gunung.
sumber: https://korananakindonesia.wordpress.com/2009/12/09/asal-usul-terjadinya-kabut/
Read More
Tua dan Terabaikan

Pagi2 masih gelap, teman2 sudah manggil2 untuk joging, malas rasanya keluar untuk joging karena rute nya sudah berkali-kali ya itu-itu saja, akhirnya saya putuskan untuk tidak mengikuti nya. Tapi sebagai gantinya saya langsung ambil kamera dalam tas dan jalan sendiri melewati jalan2 yang jarang dilalui.
Teringat didepan hotel kartika wijaya ada rangka bangunan tua yang sudah lama sekali dibiarkan begitu saja, hanya puing-puing penyangga bangunan yang ada, tidak tahu dulu waktu mulai membangun terus kehabisan dana atau masih ada sengketa tanah yang akan didirikan bangunan itu, yang jelas sayang sekali jika tanah seluas itu dibiarkan tidak produktif mengingat berada pada area pariwisata kota batu yang sangat strategis.
Diatas merupakan salah satu foto yang saya ambil, terlihat sunrise yang sangat cantik dihiasa pemandangan gunung yang indah dan puing2 bangunan kuno yang tersia-siakan.
Seharusnya Pemerintah Kota Batu tanggap dengan kondisi ini, kalau saja dibuat hotel atau tempat wisata akan menghasilkan pendapatan yang tidak sedikit, minimal bisa membuka lapangan kerja baru yang tentunya akan meningkatkan pendapatan perkapita kota Batu dan Malang.
Read MoreCPL dan Kartika Wijaya
Hotel Kartika Wijaya, terletak di kota Batu, Malang yang sudah terkenal dengan keindahan wisata alam yang disajikan. Sudah lama sekali sejak pertengahan tahun 2008 saya tidak ke tempat ini walaupun untuk berlibur sekalipun, tapi lewat didepannya sering hehehe…
Seperti 2 tahun lalu, saat ini saya melakukan trip ke hotel ini juga karena ada acara kantor, ya… sekedar untuk menjauhkan dari gangguan pekerjaan operasional supaya bisa konsentrasi mengerjakan apa yg diagendakan disini ^^, kindoff meeting and workshop hehee…
Hotel kartika wijaya merupakan hotel yang berdiri sudah lumayan lama, tidak tahu pastinya kapan yang jelas sepertinya tertulis didekat ruang makan dekat kolam renang, bukan hanya classic, hotel ini juga menyajikan konsep hunian yang keren, cool… tata pemandangannya bagus, siang ini sempat mengambil beberapa foto sewaktu sarapan, seperti gambar diatas dan dibawah tulisan ini.
Sambil mencoba filter yang baru saja saya beli, filter CPL (Circular Polarized Lenses), hasil dari filter dan digabungkan dengan settingan picture control dari kamera lumayan memuaskan walaupun tanpa melewati fase post editing.
Cara memakai filter ini juga sangat mudah, hanya tinggal pasangkan pada ujung lensa dan langsung bisa dipakai, uniknya… filter ini bisa diputar dengan tingkat polarisasi yang semakin meningkat dari minimum hingga maksimum polarized. Sayangnya putaran yang bisa dilakukan hanya searah, jika kita putar ke arah sebaliknya maka ada kemungkinan filter akan terlepas dari lensa, jadi silahkan berhati2 memutar nya ^^
Beberapa keunggulan filter polarisasi ini antara lain:
- Langit
Filter ini bisa membirukan langit, tapi jangan salah! langit yang bisa dibirukan hanyalah langit yang sebenarnya sudah biru terlebih dahulu, hanya saja masih kurang maksimal, filter ini memberikan nuansa agak gelap dengan menurunkan kadar cahaya yang masuk ke lensa. Jika langit pada waktu itu putih, maka jangan berharap dengan menggunakan filter ini bisa menjadikan langit yg putih itu menjadi berwarna biru.
Ada kondisi lain juga yang harus dihindari dengan CPL ini, filter ini bekerja maksimal ketika arah matahari berada hampir tegak lurus ke matahari, jika berhadapan langsung maka filter ini kurang maksimal menjalankan tugas nya.
- Menghilangkan Refleksi
filter ini bisa menghilangkan refleksi yang tidak kita inginkan, misalnya ketika kita ingin memotret pantai yang penuh dengan karang yang indah, tp dengan tanpa menggunakan filter ini kita akan mendapatkan refleksi dari benda2 sekitar atau langit sehingga refleksi yang kita inginkan tidak terjadi.
Filter ini membantu mendapatkan pemandangan koral dan karang itu dengan baik ketika diambil dengan sudut kurang lebih 45 derajat. Selebih nya nanti akan dibahas pada postingan berkutnya, sekalian dengan contohnya ^^ belum sempat eksplor lebih lanjut
Refleksi yg dimaksud ini juga termasuk pada refleksi kaca, ketika kita ingin memotret orang atau benda yang berada dibelakang kaca, dengan tanpa filter akan kita dapatkan pantulan cahaya, dengan filter ini akan membantu masalah itu.


- Color Enhancement
Dengan CPL kita juga bisa mendapatkan warna yang lebih terasa dan juga membuat bayangan lebih gelap
- Light Absorbsion
The main side-effect of the polarizing filter is that it absorbs 1.5 stop of light. So, if you shoot at 1/180th of a second and then add the filter, you will find yourself at 1/60th of a second. This happens whatever the orientation for a polarizer. In low light situations, some type of camera support, such as a tripod, will be needed.

