we can see the head’s
Gadis itu masih berusia enam belas tahun ketika perutnya mengalami konstraksi hebat yang membuatnya berteriak-teriak kesakitan. Usianya masih di awal enam belas, dengan tubuh ringkih seorang remaja, ketika sekujur tubuhnya berpeluh menahan denyutan-denyutan tak bersahabat yang membuatnya hampir putus asa dan membuatnya berpikir ulang, “Have I made a clever decision?”
Gadis itu masih berusia enam belas tahun ketika ia harus mengejan sekuat tenaga untuk mendorong bayi kecil perempuan itu dari dalam perutnya, safe and sound. Dengan segala kekuatan yang mendadak tumbuh sedemikian hebatnya ketika ia mendengar seorang perawat mengatakan, “Come on… Sedikit lagi… Push.. push… We can see the head’s coming!”
Ia memang masih berusia enam belas tahun; sangat labil, sangat emosional, sangat… um, muda.
Pertanyaan itu terus menggayut di dalam isi kepala gadis usia enam belas tahun itu sampai ia sesak nafas karenanya.
“Have I chose the right path? Have I took the right turn? Have I made the right decision?”
Sampai akhirnya, seorang bayi perempuan, berbobot normal, berambut gelap, bermata seperti biji berlian, menangis di pelukannya…menangis dalam timangannya… lalu memandangnya dengan kedua mata yang jernih ketika usai menyusu air susunya… Yeah. By that time she knew, she did the right thing, she made a clever decision…
Her name is Lorelai Gilmore, seorang perempuan yang enam belas tahun kemudian menjelma menjadi seorang perempuan sukses, dengan karir yang hebat, dan berhasil membesarkan puterinya, Rory Gilmore, menjadi a straight A’s student di sekolah terbaik dan menjadi calon mahasiswi idaman universitas Harvard.
Siapa yang menyangka bahwa keputusannya enam belas tahun itu adalah keputusan yang tepat? Membiarkan janin itu tumbuh di dalam perutnya lalu melahirkannya sembilan bulan kemudian dan membesarkannya tanpa suami. Ia memang memutuskan untuk tidak menerima pinangan pacarnya yang sama-sama masih remaja, masih awal enam belas tahun, yang dia pikir bukanlah seorang suami yang bisa membuat hidupnya jauh lebih baik.
She really thinks that raising a kid with herself was a clever decision. Entah apa yang terjadi kalau pada saat itu, ia memutuskan untuk gave up the child atau malah menikah di usia muda… Mungkin, ia malah tidak akan menjadi seorang perempuan berdedikasi tinggi seperti sekarang ini.
But anyhow..
It was only a movie, potongan adegan dari film seri yang saya tonton satu pekan kemarin, yang membuat saya rela begadang sampai pukul tiga pagi, karena saya tak bisa berhenti menonton kepingan episod-nya. It was Gilmore Girls, film seri Hollywood yang membuat saya berpikir cukup hebat dan otak saya terokupasi dengan pertanyaan-pertanyaan (tidak penting?).
Yeah,maybe it was only a movie, tapi bukankah terkadang, sebuah film terinspirasi dari kejadian-kejadian nyata.


Film bs menginspirasi n kadang juga membuat pikiran dan logika “terusik” untuk berpikir dr perspektif yg mungkin ga pernah kita pikirkan sebelumnya.
)
Mungkin itu salah satu alasan knp intan suka bgt ntn film dan Tv Series,(gilmore girLs salah satunya) hahaha
d^__^b
ayo nontooooooooooon